
2.2 Kegiatan Pembibitan
Pembibitan merupakan suatu kegiatan budidaya yang menghasilkan bibit
untuk keperluan sendiri atau diperjualbelikan, bibit ternak merupakan ternak yang
memiliki sifat unggul dan mewariskannya serta memenuhi persyaratan tertentu
untuk dikembangbiakan (Dirjen Peternakan, 2014). Salah satu upaya pemerintah
dalam meningkatkan jumlah dan mutu bibit sapi potong melalui kegiatan
pembibitan, berdasarkan pertimbangan, pembibitan dengan aspek kebijakan,
ketersediaan, sumber daya, sosial ekonimi dan teknis. Kebijakan pembibitan sapi
potong oleh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten di daerah sebaran geografis
rumpun sapi yang sama, merupakan kebijakan mulia dan perlu mendapat apresiasi
dari pemerintah (Chandra, 2016).
Menurut Balitbang Pertanian (2011) bahwa kesehatan bangsa sapi, baik sapi
sebagai calon bibit ataupun sebagai penghasil daging harus dipilih dari sapi yang
benar-benar sehat untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum. Peternak bisa
memperhatikan seperti keadaan tubuh, sikap atau tingkah laku, pernapasan, denyut
jantung, pencernaan dan pandangan sapi, seperti kondisi berikut :
9
a) Sapi sehat, keadaan tubuh bulat berisi, kulit lemas.
b) Tidak adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya, tidak ada tanda-tanda
kerusakan dan kerontokan pada bulu (licin dan mengkilat).
c) Selaput lendir dan gusi berwarna merah muda, lebih mudah bergerak bebas.
d) Ujung hidung bersih, basah dan dingin.
e) Kuku tidak terasa panas dan bengkak bila diraba.
f) Bersikap tegap dan tenang.
g) Keempat kaki memperoleh titik berat sama.
h) Sapi bernafas dengan tenang dan teratur, kecuali dalam situasi ketakutan
dan terancam.
Program pembibitan tentunya tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang
sebentar, sehingga program tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan. Dukungan
pendanaan dari pemerintah pada periode awal kegiatan cukup dominan namun,
dengan berjalannya waktu dominasi pendanaan berasal dari pemerintah daerah.
2.3 Pertumbuhan
Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai perubahan ukuran
yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linier, komposisi tubuh
termasuk perubahan jaringan-jaringan tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ
(Soeparno, 1994). Menurut Sugeng (2002), pertumbuhan adalah pertambahan
bobot badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur. Pertumbuhan yang terjadi pada
ternak dapat dipengaruhi oleh lingkungan, Mcdowell (1985) berpendapat bahwa
kondisi lingkungan seperti kelembaban, penyinaran matahari, angin dan ketinggian
tempat mempunyai pengaruh terhadap kondisi ternak itu sendiri.
10
Menurut Manggung (1979), pertumbuhan ternak umumnya mengarah ke
samping, sehingga pertambahan ukuran tubuh (besar) ke arah samping terlihat
nyata, sedangkan pertambahan panjang dan tingginya biasanya tidak seberapa.
Menurut Sugeng (2002) pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan atau ukuran
tubuh sesuai dengan umur.
2.4 Sifat Kualitatif
Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan
secara tegas misalnya warna bulu, ada tidaknya tanduk, dan sebagainya (Warwick,
dkk. 1995). Karakteristik sifat kualitatif sapi Pasundan memiliki persamaan dengan
sapi bangsa Bos Sondaicus di Indonesia, namun memiliki karakter yang
membedakan antara populasi sapi Pasundan dengan sapi Madura, sapi Bali, dan
sapi Jabres. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pengaruh
genetis seleksi negatif dan pola perkawinan inbreeding sebagai manifesto dari
perilaku dan budaya peternak selama ini Jawa Barat (Arifin, dkk. 2014).
Sifat kualitatif sapi Pasundan meliputi warna tubuh dominan merah bata,
terdapat warna putih pada bagian pelvis dan keempat kaki bagian bawah (tarsus dan
carpus) dengan batasan yang tidak kontras. Terdapat garis belut atau garis
punggung (eel stripe) dengan warna lebih tua dari warna dominan. Beberapa sapi
jantan dapat mengalami perubahan warna dari merah bata menjadi hitam sesuai
dengan dewasa kelamin (perubah hormon androgen), hidung dan ujung ekor
berwarna hitam. Bentuk tubuh sapi pasundan berbentuk segi empat dengan kaki
yang panjang dan kecil, tanduk yang pendek tidak seragam dan bervariasi dari kecil
sampai besar serta memiliki gumba/punuk (Arifin, dkk. 2014).
11
Warna-warna tubuh yang terdapat dalam SK Menteri Pertanian Republik
Indonesia Nomor 1051/Kpts/RI/SR.10/2014, sesuai dengan pernyataan yang
dimuat oleh Arifin (2017) yakni sapi Pasundan memiliki warna putih tidak kontras
pada bagian bawah kaki, warna putih pada pantat yang tidak kontras, memiliki
warna garis belut yang lebih tua dari warna dominan. Tipe dasar tata warna bulu
dapat dibedakan menurut warna yang meliputi seluruh permukaan tubuh sehingga
membentuk warna yang seragam atau homogen atau warna tunggal dan heterogen
atau warna campuran (Maciejowski dan Zieba, 1982). Warna juga berhubungan
dengan daya adaptasi hewan tersebut pada lingkungan, di daerah tropis dengan
derajat radiasi sinar matahari yang tinggi hewan dengan warna bulu terang dan kulit
berpigmen gelap dapat beradaptasi lebih baik (Fries dan Ruvinsky, 1999).
2.4.1 Gelambir
Gelambir terdapat di bawah leher sampai hampir mengenai perut, yang
berbentuk lipatan-lipatan. Gelambir berfungsi sebagai thermoregulator suhu tubuh.
Pada sapi-sapi Bos Indicus, adanya gelambir merupakan salah satu karakteristik dan
ciri dari bangsa tersebut (Blakely dan Bade, 1994). Secara arkeologis sapi
Pasundan merupakan hasil tekanan inbreeding dari generasi ke generasi hasil
persilangan pada program grading up sapi Peranakan ongole (PO) dan program
grading up sapi Jawa dengan sapi Madura dan sapi Bali pada zaman kolonial,
sehingga sapi Pasundan memiliki 2 (dua) tipe yakni bergelambir dan tidak
bergelambir (Indrijani, dkk. 2012). Gelambir yang panjang berperan dalan
pengaturan suhu tubuh di iklim yang panas yaitu dengan semakin permukaan kulit
yang dapat membantu proses pendinginan, serta semakin banyak pori-pori yang
membantu keluarnya keringat (Kelly, 2013).
12
2.4.2 Tanduk
Tanduk merupakan bagian tubuh yang dimiliki dari beberapa hewan yang
tumbuh di kepala, yang juga merupakan proyeksi dari kulit yang keras. Tanduk
banyak mengandung keratin, protein yang juga ada di rambut dan kuku manusia.
Kegunaan tanduk pada sapi mungkin berguna untuk pelindung dari ancaman
predator, akan tetapi untuk ternak yang dipelihara dalam keadaan sempit akan
mengakibatkan ternak tersebut saling melukai satu sama lain (Warwick, dkk. 1995).
Kegunaan tanduk pada sapi jantan sebagai daya tarik sexual di hadapan sapi betina.
Tanduk sapi tidak pernah bercabang sekali tumbuh, yang terdiri dari inti tulang
timbul dalam dermis kulit dan menyatu dalam tengkorak (Handiwirawan dan
Subandriyo, 2004).
2.5 Sifat Kuantitatif
Karakteristik kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur dari ternak yang
memiliki derajat dan sifat yang diamati dari tubuh ternak itu sendiri (Santosa, 2008).
Ukuran tubuh ternak sering juga digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan
karena ukuran merupakan indikator penting dari pertumbuhan. Ukuran tubuh dapat
digunakan untuk menaksir bobot tubuh dan berat karkas, serta memberi gambaran
bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu (Ervan, 2004).
Nilai kuantitatif pada ternak akan berhubungan dengan pertumbuhan pada
ternak. Pertumbuhan secara umum didefinisikan sebagai perubahan ukuran tubuh
yang meliputi perubahan bobot badan, bentuk, dimensi dan komposisi tubuh
termasuk perubahan jaringan-jaringan tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ
(Soeparno, 1994).
13
Karakteristik kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur dari ternak yang
memiliki derajat dan sifat yang diamati dari tubuh ternak itu sendiri (Santosa, 2008).
Pengukuran karakteristik kuantitatif mengacu pada Standar Nasional Indonesia
(SNI) meliputi umur, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada (SNI
7651.4.2015).
2.5.1 Umur
Umur ternak berperan penting dalam perubahan dimensi tubuhnya. Ternak
yang mendapat perlakuan dan manajemen pemeliharaan yang baik maka perubahan
atau pertambahan dimensi tubuhnya akan bagus (Fatmawati, dkk. 2013). Dimensi
tubuh pedet jelas berbeda dengan dimensi tubuh sapi dara dan induk, hal ini
membuktikan pengaruh umur terhadap dimensi tubuh (Siregar, 2008). Hewan yang
lebih panjang dan lebih kurus pada umur dan berat tertentu, cenderung memiliki
pertambahan bobot tubuh lebih tinggi dari umur setahun (Hammack, dkk. 1996).
2.5.2 Panjang Badan
Panjang badan adalah jarak dari bongkol bahu (tuberositas humeri) sampai
ujung tulang duduk (tuber ischii). Pengukuran panjang badan dapat dilakukan
menggunakan tongkat ukur (SNI 7651.4.2015). Menurut Dinas Peternakan Jawa
Barat (2014) bahwa ukuran panjang badan sapi Pasundan umur 18 sampai 24 bulan
pada jantan sebesar 101 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 90 cm. Panjang badan
sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 120 cm dan sapi
Pasundan betina sebesar 110 cm. Ukuran panjang badan dan lingkar dada erat
kaitanya dengan komponen tubuh, ukuran permukaan, dan bagian tubuh ternak
serta mempunyai banyak kegunaan karena dapat digunakan dalam penafsiran bobot
badan dan karkas (Santosa, 2008).
14
2.5.3 Tinggi Pundak
Tinggi pundak adalah jarak tegak lurus dari jarak tertinggi pundak sampai
ke permukaan tanah atau lantai menggunakan tongkat ukur. Ukuran tinggi pundak
sapi Pasundan umur 18 sampai dengan 24 bulan pada jantan sebesar 105 cm dan
sapi Pasundan betina sebesar 96 cm. Tinggi pundak sapi Pasundan umur lebih dari
24 bulan pada jantan sebesar 115 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 109 cm
(Dinas Peternakan Jabar, 2014). Ukuran-ukuran tubuh seperti lingkar dada,
panjang badan, dan tinggi pundak dapan memberikan petunjuk bobot badan ternak
dengan ketelitian yang cukup baik. Korelasi antara lingkar dada, panjang badan,
dan tinggi pundak dengan bobot hidup sangat tinggi dibandingkan dengan ukuran
tubuh lainnya (Santosa, 2008).
2.5.4 Lingkar Dada
Pengukuran lingkar dada yaitu dengan cara mengukur lingkar dada dengan
melingkarkan pita ukur pada bagian bagian dada di belakang bahu (SNI
7651.4.2.2015). Ukuran lingkar dada sapi Pasundan umur 18 sampai 24 bulan pada
jantan sebesar 142 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 136 cm. Panjang badan
sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 150 cm dan sapi
Pasundan betina sebesar 138 cm (Dinas Peternakan Jabar, 2014). Lingkar dada
memiliki peranan terhadap penafsiran bobot badan dibandingakan ukuran tubuh
lain. Penggunaan ukuran lingkar dada dan panjang badan dapat memberi petunjuk
bobot badan seekor hewan dengan tepat (Williamsom dan Payne, 1993). Metode
pendugaan ini memiliki keunggulan dalam hal kepraktisan, akan tetapi memiliki
kendala dengan tingkat akurasi pendugaannya dan masih perlu terus dikembangkan
terutama dalam konteks ternak lokal di Indonesia (Gunawan, 1993).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar