Sabtu, 13 Juni 2020

SAPI PASUNDAN

2.1 Sapi Pasundan merupakan sapi lokal yang termasuk sapi potong dan berkembang di masyarakat sepanjang wilayah priangan utara (Kabupaten Kuningan, Majalengka, Kabupaten Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, dan Ciamis) juga di wilayah pesisir selatan Jawa Barat antara lain Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Sukabumi. (Indrijani, 2012). Sapi Pasundan sebagai sapi lokal Jawa Barat yang sering disebut sebagai sapi kacang. Istilah sapi kacang merupakan predikat atas karakter kuantitatif yang relatif lebih kecil dibanding sapi potong lainnya. Istilah sapi kacang diduga muncul setelah jenis sapi potong lain seperti sapi Peranakan Ongole, sapi Brahman dan sapi-sapi Bos Taurus hidup dan menyatu dengan petani (Indrijani, dkk. 2013). Secara fenotip sapi Pasundan memiliki warna hidung dan ujung ekor hitam, warna tubuh merah bata atau merah tua, kepala kecil, tanduk kecil mengarah ke dalam, pada bagian perut (abdomen), gendis (thick) dan kaki (tarsal, metatarsal, carpus dan metatarsus) berwarna putih dan sebagian memiliki garis belut di sepanjang punggung (Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2014). Sapi Pasundan menjadi basis populasi sapi potong penghasil pedet di Jawa Barat dibanding dengan sapi potong lainnya. Hal ini menjadi suatu kewajaran di kalangan masyarakat Jawa Barat karena populasi sapi Pasundan yang cukup tinggi. Masyarakat Jawa Barat mengetahui bahwa sapi Pasundan memiliki nilai efisien dalam pemeliharaan, diantaranya adalah digembalakan di dalam hutan (ekstensif) atau semi intensif, perkandangan yang relatif sederhana, tahan haus, tahan terhadap 8 penyakit tropis, tahan terhadap cekaman perubahan cuaca, dan memiliki siklus reproduksi yang pendek dengan paritas lebih dari 20 (Arifin, dkk. 2014). Sapi Pasundan mempunyai dua tipe yaitu tipe bergelambir dan tidak bergelambir. Hal ini berasal dari asal-usul genetik sapi Pasundan yaitu perkawinan antar bangsa sapi yang berbeda (cross breeding) dari sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa, dan sapi Peranakan Ongole kemudian keturunannya terjadi inbreeding selama sepuluh keturunan sehingga menghasilkan performa ukuran tubuh yang kecil (Indrijani, dkk. 2013). 

2.2 Kegiatan Pembibitan Pembibitan merupakan suatu kegiatan budidaya yang menghasilkan bibit untuk keperluan sendiri atau diperjualbelikan, bibit ternak merupakan ternak yang memiliki sifat unggul dan mewariskannya serta memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakan (Dirjen Peternakan, 2014). Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan jumlah dan mutu bibit sapi potong melalui kegiatan pembibitan, berdasarkan pertimbangan, pembibitan dengan aspek kebijakan, ketersediaan, sumber daya, sosial ekonimi dan teknis. Kebijakan pembibitan sapi potong oleh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten di daerah sebaran geografis rumpun sapi yang sama, merupakan kebijakan mulia dan perlu mendapat apresiasi dari pemerintah (Chandra, 2016). Menurut Balitbang Pertanian (2011) bahwa kesehatan bangsa sapi, baik sapi sebagai calon bibit ataupun sebagai penghasil daging harus dipilih dari sapi yang benar-benar sehat untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum. Peternak bisa memperhatikan seperti keadaan tubuh, sikap atau tingkah laku, pernapasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan sapi, seperti kondisi berikut : 9 a) Sapi sehat, keadaan tubuh bulat berisi, kulit lemas. b) Tidak adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya, tidak ada tanda-tanda kerusakan dan kerontokan pada bulu (licin dan mengkilat). c) Selaput lendir dan gusi berwarna merah muda, lebih mudah bergerak bebas. d) Ujung hidung bersih, basah dan dingin. e) Kuku tidak terasa panas dan bengkak bila diraba. f) Bersikap tegap dan tenang. g) Keempat kaki memperoleh titik berat sama. h) Sapi bernafas dengan tenang dan teratur, kecuali dalam situasi ketakutan dan terancam. Program pembibitan tentunya tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang sebentar, sehingga program tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan. Dukungan pendanaan dari pemerintah pada periode awal kegiatan cukup dominan namun, dengan berjalannya waktu dominasi pendanaan berasal dari pemerintah daerah. 

2.3 Pertumbuhan Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linier, komposisi tubuh termasuk perubahan jaringan-jaringan tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ (Soeparno, 1994). Menurut Sugeng (2002), pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur. Pertumbuhan yang terjadi pada ternak dapat dipengaruhi oleh lingkungan, Mcdowell (1985) berpendapat bahwa kondisi lingkungan seperti kelembaban, penyinaran matahari, angin dan ketinggian tempat mempunyai pengaruh terhadap kondisi ternak itu sendiri. 10 Menurut Manggung (1979), pertumbuhan ternak umumnya mengarah ke samping, sehingga pertambahan ukuran tubuh (besar) ke arah samping terlihat nyata, sedangkan pertambahan panjang dan tingginya biasanya tidak seberapa. Menurut Sugeng (2002) pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur. 

2.4 Sifat Kualitatif Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan secara tegas misalnya warna bulu, ada tidaknya tanduk, dan sebagainya (Warwick, dkk. 1995). Karakteristik sifat kualitatif sapi Pasundan memiliki persamaan dengan sapi bangsa Bos Sondaicus di Indonesia, namun memiliki karakter yang membedakan antara populasi sapi Pasundan dengan sapi Madura, sapi Bali, dan sapi Jabres. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pengaruh genetis seleksi negatif dan pola perkawinan inbreeding sebagai manifesto dari perilaku dan budaya peternak selama ini Jawa Barat (Arifin, dkk. 2014). Sifat kualitatif sapi Pasundan meliputi warna tubuh dominan merah bata, terdapat warna putih pada bagian pelvis dan keempat kaki bagian bawah (tarsus dan carpus) dengan batasan yang tidak kontras. Terdapat garis belut atau garis punggung (eel stripe) dengan warna lebih tua dari warna dominan. Beberapa sapi jantan dapat mengalami perubahan warna dari merah bata menjadi hitam sesuai dengan dewasa kelamin (perubah hormon androgen), hidung dan ujung ekor berwarna hitam. Bentuk tubuh sapi pasundan berbentuk segi empat dengan kaki yang panjang dan kecil, tanduk yang pendek tidak seragam dan bervariasi dari kecil sampai besar serta memiliki gumba/punuk (Arifin, dkk. 2014). 
 11 Warna-warna tubuh yang terdapat dalam SK Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1051/Kpts/RI/SR.10/2014, sesuai dengan pernyataan yang dimuat oleh Arifin (2017) yakni sapi Pasundan memiliki warna putih tidak kontras pada bagian bawah kaki, warna putih pada pantat yang tidak kontras, memiliki warna garis belut yang lebih tua dari warna dominan. Tipe dasar tata warna bulu dapat dibedakan menurut warna yang meliputi seluruh permukaan tubuh sehingga membentuk warna yang seragam atau homogen atau warna tunggal dan heterogen atau warna campuran (Maciejowski dan Zieba, 1982). Warna juga berhubungan dengan daya adaptasi hewan tersebut pada lingkungan, di daerah tropis dengan derajat radiasi sinar matahari yang tinggi hewan dengan warna bulu terang dan kulit berpigmen gelap dapat beradaptasi lebih baik (Fries dan Ruvinsky, 1999).

 2.4.1 Gelambir Gelambir terdapat di bawah leher sampai hampir mengenai perut, yang berbentuk lipatan-lipatan. Gelambir berfungsi sebagai thermoregulator suhu tubuh. Pada sapi-sapi Bos Indicus, adanya gelambir merupakan salah satu karakteristik dan ciri dari bangsa tersebut (Blakely dan Bade, 1994). Secara arkeologis sapi Pasundan merupakan hasil tekanan inbreeding dari generasi ke generasi hasil persilangan pada program grading up sapi Peranakan ongole (PO) dan program grading up sapi Jawa dengan sapi Madura dan sapi Bali pada zaman kolonial, sehingga sapi Pasundan memiliki 2 (dua) tipe yakni bergelambir dan tidak bergelambir (Indrijani, dkk. 2012). Gelambir yang panjang berperan dalan pengaturan suhu tubuh di iklim yang panas yaitu dengan semakin permukaan kulit yang dapat membantu proses pendinginan, serta semakin banyak pori-pori yang membantu keluarnya keringat (Kelly, 2013). 

12 2.4.2 Tanduk Tanduk merupakan bagian tubuh yang dimiliki dari beberapa hewan yang tumbuh di kepala, yang juga merupakan proyeksi dari kulit yang keras. Tanduk banyak mengandung keratin, protein yang juga ada di rambut dan kuku manusia. Kegunaan tanduk pada sapi mungkin berguna untuk pelindung dari ancaman predator, akan tetapi untuk ternak yang dipelihara dalam keadaan sempit akan mengakibatkan ternak tersebut saling melukai satu sama lain (Warwick, dkk. 1995). Kegunaan tanduk pada sapi jantan sebagai daya tarik sexual di hadapan sapi betina. Tanduk sapi tidak pernah bercabang sekali tumbuh, yang terdiri dari inti tulang timbul dalam dermis kulit dan menyatu dalam tengkorak (Handiwirawan dan Subandriyo, 2004). 

2.5 Sifat Kuantitatif Karakteristik kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur dari ternak yang memiliki derajat dan sifat yang diamati dari tubuh ternak itu sendiri (Santosa, 2008). Ukuran tubuh ternak sering juga digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan karena ukuran merupakan indikator penting dari pertumbuhan. Ukuran tubuh dapat digunakan untuk menaksir bobot tubuh dan berat karkas, serta memberi gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu (Ervan, 2004). Nilai kuantitatif pada ternak akan berhubungan dengan pertumbuhan pada ternak. Pertumbuhan secara umum didefinisikan sebagai perubahan ukuran tubuh yang meliputi perubahan bobot badan, bentuk, dimensi dan komposisi tubuh termasuk perubahan jaringan-jaringan tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ (Soeparno, 1994). 13 Karakteristik kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur dari ternak yang memiliki derajat dan sifat yang diamati dari tubuh ternak itu sendiri (Santosa, 2008). Pengukuran karakteristik kuantitatif mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) meliputi umur, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada (SNI 7651.4.2015). 

2.5.1 Umur Umur ternak berperan penting dalam perubahan dimensi tubuhnya. Ternak yang mendapat perlakuan dan manajemen pemeliharaan yang baik maka perubahan atau pertambahan dimensi tubuhnya akan bagus (Fatmawati, dkk. 2013). Dimensi tubuh pedet jelas berbeda dengan dimensi tubuh sapi dara dan induk, hal ini membuktikan pengaruh umur terhadap dimensi tubuh (Siregar, 2008). Hewan yang lebih panjang dan lebih kurus pada umur dan berat tertentu, cenderung memiliki pertambahan bobot tubuh lebih tinggi dari umur setahun (Hammack, dkk. 1996). 

2.5.2 Panjang Badan Panjang badan adalah jarak dari bongkol bahu (tuberositas humeri) sampai ujung tulang duduk (tuber ischii). Pengukuran panjang badan dapat dilakukan menggunakan tongkat ukur (SNI 7651.4.2015). Menurut Dinas Peternakan Jawa Barat (2014) bahwa ukuran panjang badan sapi Pasundan umur 18 sampai 24 bulan pada jantan sebesar 101 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 90 cm. Panjang badan sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 120 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 110 cm. Ukuran panjang badan dan lingkar dada erat kaitanya dengan komponen tubuh, ukuran permukaan, dan bagian tubuh ternak serta mempunyai banyak kegunaan karena dapat digunakan dalam penafsiran bobot badan dan karkas (Santosa, 2008). 14

 2.5.3 Tinggi Pundak Tinggi pundak adalah jarak tegak lurus dari jarak tertinggi pundak sampai ke permukaan tanah atau lantai menggunakan tongkat ukur. Ukuran tinggi pundak sapi Pasundan umur 18 sampai dengan 24 bulan pada jantan sebesar 105 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 96 cm. Tinggi pundak sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 115 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 109 cm (Dinas Peternakan Jabar, 2014). Ukuran-ukuran tubuh seperti lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak dapan memberikan petunjuk bobot badan ternak dengan ketelitian yang cukup baik. Korelasi antara lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak dengan bobot hidup sangat tinggi dibandingkan dengan ukuran tubuh lainnya (Santosa, 2008). 

2.5.4 Lingkar Dada Pengukuran lingkar dada yaitu dengan cara mengukur lingkar dada dengan melingkarkan pita ukur pada bagian bagian dada di belakang bahu (SNI 7651.4.2.2015). Ukuran lingkar dada sapi Pasundan umur 18 sampai 24 bulan pada jantan sebesar 142 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 136 cm. Panjang badan sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 150 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 138 cm (Dinas Peternakan Jabar, 2014). Lingkar dada memiliki peranan terhadap penafsiran bobot badan dibandingakan ukuran tubuh lain. Penggunaan ukuran lingkar dada dan panjang badan dapat memberi petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat (Williamsom dan Payne, 1993). Metode pendugaan ini memiliki keunggulan dalam hal kepraktisan, akan tetapi memiliki kendala dengan tingkat akurasi pendugaannya dan masih perlu terus dikembangkan terutama dalam konteks ternak lokal di Indonesia (Gunawan, 1993).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar