Sabtu, 13 Juni 2020

SAPI PASUNDAN

2.1 Sapi Pasundan merupakan sapi lokal yang termasuk sapi potong dan berkembang di masyarakat sepanjang wilayah priangan utara (Kabupaten Kuningan, Majalengka, Kabupaten Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, dan Ciamis) juga di wilayah pesisir selatan Jawa Barat antara lain Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Sukabumi. (Indrijani, 2012). Sapi Pasundan sebagai sapi lokal Jawa Barat yang sering disebut sebagai sapi kacang. Istilah sapi kacang merupakan predikat atas karakter kuantitatif yang relatif lebih kecil dibanding sapi potong lainnya. Istilah sapi kacang diduga muncul setelah jenis sapi potong lain seperti sapi Peranakan Ongole, sapi Brahman dan sapi-sapi Bos Taurus hidup dan menyatu dengan petani (Indrijani, dkk. 2013). Secara fenotip sapi Pasundan memiliki warna hidung dan ujung ekor hitam, warna tubuh merah bata atau merah tua, kepala kecil, tanduk kecil mengarah ke dalam, pada bagian perut (abdomen), gendis (thick) dan kaki (tarsal, metatarsal, carpus dan metatarsus) berwarna putih dan sebagian memiliki garis belut di sepanjang punggung (Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2014). Sapi Pasundan menjadi basis populasi sapi potong penghasil pedet di Jawa Barat dibanding dengan sapi potong lainnya. Hal ini menjadi suatu kewajaran di kalangan masyarakat Jawa Barat karena populasi sapi Pasundan yang cukup tinggi. Masyarakat Jawa Barat mengetahui bahwa sapi Pasundan memiliki nilai efisien dalam pemeliharaan, diantaranya adalah digembalakan di dalam hutan (ekstensif) atau semi intensif, perkandangan yang relatif sederhana, tahan haus, tahan terhadap 8 penyakit tropis, tahan terhadap cekaman perubahan cuaca, dan memiliki siklus reproduksi yang pendek dengan paritas lebih dari 20 (Arifin, dkk. 2014). Sapi Pasundan mempunyai dua tipe yaitu tipe bergelambir dan tidak bergelambir. Hal ini berasal dari asal-usul genetik sapi Pasundan yaitu perkawinan antar bangsa sapi yang berbeda (cross breeding) dari sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa, dan sapi Peranakan Ongole kemudian keturunannya terjadi inbreeding selama sepuluh keturunan sehingga menghasilkan performa ukuran tubuh yang kecil (Indrijani, dkk. 2013). 

2.2 Kegiatan Pembibitan Pembibitan merupakan suatu kegiatan budidaya yang menghasilkan bibit untuk keperluan sendiri atau diperjualbelikan, bibit ternak merupakan ternak yang memiliki sifat unggul dan mewariskannya serta memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakan (Dirjen Peternakan, 2014). Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan jumlah dan mutu bibit sapi potong melalui kegiatan pembibitan, berdasarkan pertimbangan, pembibitan dengan aspek kebijakan, ketersediaan, sumber daya, sosial ekonimi dan teknis. Kebijakan pembibitan sapi potong oleh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten di daerah sebaran geografis rumpun sapi yang sama, merupakan kebijakan mulia dan perlu mendapat apresiasi dari pemerintah (Chandra, 2016). Menurut Balitbang Pertanian (2011) bahwa kesehatan bangsa sapi, baik sapi sebagai calon bibit ataupun sebagai penghasil daging harus dipilih dari sapi yang benar-benar sehat untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum. Peternak bisa memperhatikan seperti keadaan tubuh, sikap atau tingkah laku, pernapasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan sapi, seperti kondisi berikut : 9 a) Sapi sehat, keadaan tubuh bulat berisi, kulit lemas. b) Tidak adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya, tidak ada tanda-tanda kerusakan dan kerontokan pada bulu (licin dan mengkilat). c) Selaput lendir dan gusi berwarna merah muda, lebih mudah bergerak bebas. d) Ujung hidung bersih, basah dan dingin. e) Kuku tidak terasa panas dan bengkak bila diraba. f) Bersikap tegap dan tenang. g) Keempat kaki memperoleh titik berat sama. h) Sapi bernafas dengan tenang dan teratur, kecuali dalam situasi ketakutan dan terancam. Program pembibitan tentunya tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang sebentar, sehingga program tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan. Dukungan pendanaan dari pemerintah pada periode awal kegiatan cukup dominan namun, dengan berjalannya waktu dominasi pendanaan berasal dari pemerintah daerah. 

2.3 Pertumbuhan Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linier, komposisi tubuh termasuk perubahan jaringan-jaringan tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ (Soeparno, 1994). Menurut Sugeng (2002), pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur. Pertumbuhan yang terjadi pada ternak dapat dipengaruhi oleh lingkungan, Mcdowell (1985) berpendapat bahwa kondisi lingkungan seperti kelembaban, penyinaran matahari, angin dan ketinggian tempat mempunyai pengaruh terhadap kondisi ternak itu sendiri. 10 Menurut Manggung (1979), pertumbuhan ternak umumnya mengarah ke samping, sehingga pertambahan ukuran tubuh (besar) ke arah samping terlihat nyata, sedangkan pertambahan panjang dan tingginya biasanya tidak seberapa. Menurut Sugeng (2002) pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur. 

2.4 Sifat Kualitatif Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan secara tegas misalnya warna bulu, ada tidaknya tanduk, dan sebagainya (Warwick, dkk. 1995). Karakteristik sifat kualitatif sapi Pasundan memiliki persamaan dengan sapi bangsa Bos Sondaicus di Indonesia, namun memiliki karakter yang membedakan antara populasi sapi Pasundan dengan sapi Madura, sapi Bali, dan sapi Jabres. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pengaruh genetis seleksi negatif dan pola perkawinan inbreeding sebagai manifesto dari perilaku dan budaya peternak selama ini Jawa Barat (Arifin, dkk. 2014). Sifat kualitatif sapi Pasundan meliputi warna tubuh dominan merah bata, terdapat warna putih pada bagian pelvis dan keempat kaki bagian bawah (tarsus dan carpus) dengan batasan yang tidak kontras. Terdapat garis belut atau garis punggung (eel stripe) dengan warna lebih tua dari warna dominan. Beberapa sapi jantan dapat mengalami perubahan warna dari merah bata menjadi hitam sesuai dengan dewasa kelamin (perubah hormon androgen), hidung dan ujung ekor berwarna hitam. Bentuk tubuh sapi pasundan berbentuk segi empat dengan kaki yang panjang dan kecil, tanduk yang pendek tidak seragam dan bervariasi dari kecil sampai besar serta memiliki gumba/punuk (Arifin, dkk. 2014). 
 11 Warna-warna tubuh yang terdapat dalam SK Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1051/Kpts/RI/SR.10/2014, sesuai dengan pernyataan yang dimuat oleh Arifin (2017) yakni sapi Pasundan memiliki warna putih tidak kontras pada bagian bawah kaki, warna putih pada pantat yang tidak kontras, memiliki warna garis belut yang lebih tua dari warna dominan. Tipe dasar tata warna bulu dapat dibedakan menurut warna yang meliputi seluruh permukaan tubuh sehingga membentuk warna yang seragam atau homogen atau warna tunggal dan heterogen atau warna campuran (Maciejowski dan Zieba, 1982). Warna juga berhubungan dengan daya adaptasi hewan tersebut pada lingkungan, di daerah tropis dengan derajat radiasi sinar matahari yang tinggi hewan dengan warna bulu terang dan kulit berpigmen gelap dapat beradaptasi lebih baik (Fries dan Ruvinsky, 1999).

 2.4.1 Gelambir Gelambir terdapat di bawah leher sampai hampir mengenai perut, yang berbentuk lipatan-lipatan. Gelambir berfungsi sebagai thermoregulator suhu tubuh. Pada sapi-sapi Bos Indicus, adanya gelambir merupakan salah satu karakteristik dan ciri dari bangsa tersebut (Blakely dan Bade, 1994). Secara arkeologis sapi Pasundan merupakan hasil tekanan inbreeding dari generasi ke generasi hasil persilangan pada program grading up sapi Peranakan ongole (PO) dan program grading up sapi Jawa dengan sapi Madura dan sapi Bali pada zaman kolonial, sehingga sapi Pasundan memiliki 2 (dua) tipe yakni bergelambir dan tidak bergelambir (Indrijani, dkk. 2012). Gelambir yang panjang berperan dalan pengaturan suhu tubuh di iklim yang panas yaitu dengan semakin permukaan kulit yang dapat membantu proses pendinginan, serta semakin banyak pori-pori yang membantu keluarnya keringat (Kelly, 2013). 

12 2.4.2 Tanduk Tanduk merupakan bagian tubuh yang dimiliki dari beberapa hewan yang tumbuh di kepala, yang juga merupakan proyeksi dari kulit yang keras. Tanduk banyak mengandung keratin, protein yang juga ada di rambut dan kuku manusia. Kegunaan tanduk pada sapi mungkin berguna untuk pelindung dari ancaman predator, akan tetapi untuk ternak yang dipelihara dalam keadaan sempit akan mengakibatkan ternak tersebut saling melukai satu sama lain (Warwick, dkk. 1995). Kegunaan tanduk pada sapi jantan sebagai daya tarik sexual di hadapan sapi betina. Tanduk sapi tidak pernah bercabang sekali tumbuh, yang terdiri dari inti tulang timbul dalam dermis kulit dan menyatu dalam tengkorak (Handiwirawan dan Subandriyo, 2004). 

2.5 Sifat Kuantitatif Karakteristik kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur dari ternak yang memiliki derajat dan sifat yang diamati dari tubuh ternak itu sendiri (Santosa, 2008). Ukuran tubuh ternak sering juga digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan karena ukuran merupakan indikator penting dari pertumbuhan. Ukuran tubuh dapat digunakan untuk menaksir bobot tubuh dan berat karkas, serta memberi gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu (Ervan, 2004). Nilai kuantitatif pada ternak akan berhubungan dengan pertumbuhan pada ternak. Pertumbuhan secara umum didefinisikan sebagai perubahan ukuran tubuh yang meliputi perubahan bobot badan, bentuk, dimensi dan komposisi tubuh termasuk perubahan jaringan-jaringan tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ (Soeparno, 1994). 13 Karakteristik kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur dari ternak yang memiliki derajat dan sifat yang diamati dari tubuh ternak itu sendiri (Santosa, 2008). Pengukuran karakteristik kuantitatif mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) meliputi umur, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada (SNI 7651.4.2015). 

2.5.1 Umur Umur ternak berperan penting dalam perubahan dimensi tubuhnya. Ternak yang mendapat perlakuan dan manajemen pemeliharaan yang baik maka perubahan atau pertambahan dimensi tubuhnya akan bagus (Fatmawati, dkk. 2013). Dimensi tubuh pedet jelas berbeda dengan dimensi tubuh sapi dara dan induk, hal ini membuktikan pengaruh umur terhadap dimensi tubuh (Siregar, 2008). Hewan yang lebih panjang dan lebih kurus pada umur dan berat tertentu, cenderung memiliki pertambahan bobot tubuh lebih tinggi dari umur setahun (Hammack, dkk. 1996). 

2.5.2 Panjang Badan Panjang badan adalah jarak dari bongkol bahu (tuberositas humeri) sampai ujung tulang duduk (tuber ischii). Pengukuran panjang badan dapat dilakukan menggunakan tongkat ukur (SNI 7651.4.2015). Menurut Dinas Peternakan Jawa Barat (2014) bahwa ukuran panjang badan sapi Pasundan umur 18 sampai 24 bulan pada jantan sebesar 101 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 90 cm. Panjang badan sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 120 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 110 cm. Ukuran panjang badan dan lingkar dada erat kaitanya dengan komponen tubuh, ukuran permukaan, dan bagian tubuh ternak serta mempunyai banyak kegunaan karena dapat digunakan dalam penafsiran bobot badan dan karkas (Santosa, 2008). 14

 2.5.3 Tinggi Pundak Tinggi pundak adalah jarak tegak lurus dari jarak tertinggi pundak sampai ke permukaan tanah atau lantai menggunakan tongkat ukur. Ukuran tinggi pundak sapi Pasundan umur 18 sampai dengan 24 bulan pada jantan sebesar 105 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 96 cm. Tinggi pundak sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 115 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 109 cm (Dinas Peternakan Jabar, 2014). Ukuran-ukuran tubuh seperti lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak dapan memberikan petunjuk bobot badan ternak dengan ketelitian yang cukup baik. Korelasi antara lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak dengan bobot hidup sangat tinggi dibandingkan dengan ukuran tubuh lainnya (Santosa, 2008). 

2.5.4 Lingkar Dada Pengukuran lingkar dada yaitu dengan cara mengukur lingkar dada dengan melingkarkan pita ukur pada bagian bagian dada di belakang bahu (SNI 7651.4.2.2015). Ukuran lingkar dada sapi Pasundan umur 18 sampai 24 bulan pada jantan sebesar 142 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 136 cm. Panjang badan sapi Pasundan umur lebih dari 24 bulan pada jantan sebesar 150 cm dan sapi Pasundan betina sebesar 138 cm (Dinas Peternakan Jabar, 2014). Lingkar dada memiliki peranan terhadap penafsiran bobot badan dibandingakan ukuran tubuh lain. Penggunaan ukuran lingkar dada dan panjang badan dapat memberi petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat (Williamsom dan Payne, 1993). Metode pendugaan ini memiliki keunggulan dalam hal kepraktisan, akan tetapi memiliki kendala dengan tingkat akurasi pendugaannya dan masih perlu terus dikembangkan terutama dalam konteks ternak lokal di Indonesia (Gunawan, 1993).

SAPI PO

Sapi Ongole adalah Sapi yang asalnya dari Negeri India dan masih tergolong jenis sapi zebu atau sapi berpunuk. Banyak dibiakkan oleh para peternak pulau Sumba secara alami, dengan demikian sapi ini juga dikenal dengan nama Sapi PO.

Karakteristik Sapi Ongole 
  1. Ciri khas sapi Ongole adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. Kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama sapi jantan. 
  2. Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. 
  3. Kepala pendek dengan profil melengkung. Mata besar dengan sorot yang tenang. 
  4. Tanduk pendek dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan sapi jantan. 
  5. Telinga panjang dan menggantung, Sapi Ongole akan dewasa kelamin pada umur 24-30 bulan. Sapi Ongole tergolong lambat dewasa. Jenis sapi ini akan mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun. 
  6. Bobot maksimal sapi dewasa 600 kg dan sapi betina dewasa 400 kg. Persentase karkas 45-58% dan perbandingan daging serta tulang 4,25 :1

ciri- ciri fisik dari Sapi Peranakan Ongole :

  1. Warna bulunya bervariasi, tetapi kebanyakan berwarna putih atau putih keabu-abuan
  2. Warna bulu putih abu-abu baru muncul ketika lepas sapih
  3. Pada jantan kadang dijumpai bercak-bercak berwarna hitam pada lututnya
  4. Mata besar  dan terang
  5. Bulu sekitar mata berwarna hitam
  6. Bulu jambul ekor berwarna hitam
  7. Bentuk kepala pendek melengkung
  8. Telinga panjang dan menggantung
  9. Perut agak besar
  10. Bergelambir longgar dan menggantung
  11. Punuk besar
  12. Leher Pendek
  13. Tanduk Pendek

Keunggulan Sapi Peranakan Ongole

  1. Mampu berdaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan
  2. Cepat bereproduksi
  3. Tempramen bagus
  4.  Tahan terhadap ekto dan endoparasit
  5. Pertumbuhan relatif cepat 
  6. Presentase karkas dan kualitas daging baik
  7. Aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak
  8. Jantannya memiliki kualitas semen yang baik

Jumat, 12 Juni 2020

JENIS SAPI PEDAGING

di indonesia, banyak sekali jenis sapi yang dibudidayakan oleh peternak. masing masing jenis sapi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. dengan mengetahui jenis sapi dan keungulannya, maka peternak dapat memilih jenis sapi yang cocok untuk dipelihara di daerah masing masing.

jenis-jenis sapi yang sering di budidayakan di indonesia seperti :

  1. sapi brahman

sapi brahman adalah keturunan sapi zebu atau boss indiscuss. aslinya berasal dari india kemudia masuk ke amerika pada tahun 1849 berkembang pesat di amerika, di as, sapi brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor ke berbagai negara. dari as, sapi brahman menyebar ke australia. di amerika terbentuk perkumpulan pembibit american brahman breeder association, sedangkan di australia terbentuk australian brahman breeder association. sapi brahman masuk ke indonesia sejak zaman penjajahan belanda.

ciri khas sapi brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. telinga panjang menggantung dan berujung runcing. sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan. persentase karkasnya 45%. keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

sapi ini juga berkembang biak di australia. bahkan, para pembibit sapi di australia melakukan persilangan sapi brahman dengan bangsa sapi lainnya seperti simmental,herefod dan limousin, hasilnya dikenal dengan nama sapi brahman cross, yang sejak tahun 1985 sudah masuk ke indonesia melalui program bantuan asian development bank (adb). sapi ini cocok dikembangkan di indonesia yang beriklim tropis.

sapi brahman cross pada awalnya merupakan bangsa sapi brahman amerika yang diimpor australia pada tahun 1933. mulai dikembangkan di stasiun csiro’s tropical cattle research centre rockhampton australia, dengan materi dasar sapi brahman, hereford dan shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25% (turner, 1977), sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi brahman cross cenderung lebih mirip sapi brahman amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.

  1. sapi simental

sapi simmental adalah bangsa bos taurus (talib dan siregar, 1999), berasal dari daerah simme di negara switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua eropa dan amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg. bentuk tubuhnya kekar dan berotot, sapi jenis ini sangat cocok dipelihara di tempat yang iklimnya sedang. persentase karkas sapi jenis ini tinggi, mengandung sedikit lemak.dapat difungsikan sebagai sapi perah dan potong.

secara genetik, sapi simmental adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur.

  1. sapi limousine (limosin)

sapi limousin adalah bangsa bos turus (talib dan siregar, 1999), dikembang-kan pertama di perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda.

bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak. keunggulan dari jenis sapi ini pertumbuhan baannya yang sangat cepat. secara genetik, sapi limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. di indnesia sapi limousin disilangkan dengan berbagai jenis sapi lain, seperti misalnya dengan sapi peranakan ongole, sapi brahman atau sapi hereford. sapi limosin diprediksi akan populer dan menjadi primadona baru di dunia industri peternakan. semua orang yang bergerak di usaha penggemukan sapi mulai sering membicarakan sapi ini.

keistimewaan paling utama adalah proses pertumbuhannya lebih cepat. kemudian badan serta ukuran beratnya yang juga lebih tinggi sehingga jumlah dagingnya pasti lebih banyak.

selain itu kwalitas sapi limosin juga dinilai lebih bagus dan lezat untuk dijadikan makanan. maka tidak mengherankan bila nilai jual dari sapi jenis ini juga jauh lebih tinggi dan mahal. sehingga keuntungan yang didapatkan oleh peternak atau pedagang tentu akan lebih banyak.

keunggulan lain memelihara ternak sapi limosin adalah waktu yang dibutuhkan untuk penggemukan atau pertumbuhannya lebih pendek dan singkat. dan yang membuat para peternah lebih nyaman adalah, sapi ini juga lebih tahan terhadap serangan berbagai macam penyakit, terutama antraks yang beberapa waktu lalu pernah merajalela dan membuat rugi banyak peternak. 

  1. sapi po (peranakan ongole)

sapi po adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi sumba ongole (so) dengan sapi betina lo-kal di jawa yang berwarna putih (anonimus, 2003b). saat ini sapi po yang murni mu lai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan dengan sapi brahman, sehingga sapi podiartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. sapi po terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik.

sapi po terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik. cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik (anonim, 2012).

hasil perkawinan antara sapi ongole dengan sapi jawa adalah sapi po atau sapi peranakan ongole (po). ukuran tubuh besar dan bisa lebih tahan terhadap kepanasan, kehausan dan kelaparan. serta dapat mengkondisikan diri dengan mengkonsumsi pakan berkualitas rendah sekalipun. sapi po betina memiliki sifat serta hasil reproduksi lebih baik dibandingkan dengan sapi madura dan sapi bali, dan terlebih lagi harga sapi ongole jelas lebih tinggi ketimbang kedua sapi tersebut.

sapi peranakan ongole (po)memiliki ciri ciri khusus sebagai berikut. menurut penuturan ir. heru wahyono sebagai kabid peternakan dan produksi hewan dinas pertanian dan peternakan kabupaten kebumen, sapi po mempunyai bentuk muka yang agak cembung serta pendek dengan lingkar mata berwarna hitam. bermoncong rata dengan warna hitam, memiliki tanduk berwarna gelap dan lengkungannya mengarah ke belakang. pada sapi po betina tanduk lebih panjang dari sapi po jantan.

mempunyai tulang belikat besar, serta punduk sudah ada sejak lahir. memiliki pusar panjang dan berwarna putih. serta memiliki posisi uyeng uyeng yang tidak segaris lurus dengan posisi pusar. ciri lain dari sapi po adalah terletak pada bentuk telinga yang berdiri, agar lebar dan bisa bergerak dengan leluasa. lehernya yang panjang dan bergelambir warna putih. gelambirnya yang tebal dari depan membelah dua. sapi po mempunyai bentuk punuk yang besar tegak serta menonjol ke belakang dan tidak jatuh. berat sapi po yang baru lahir bisa mencapai 28 kg.

  1. sapi ongole

sapi ongole adalah sapi keturunan sapi liar bos indicus yang berhasil dijinakan di india. di indonesia, sapi ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu sumba ongole (so)dan sapi peranakan ongole (po). sumba ongole adalah keturunan murni sapi nellore dari india yang didatangkan tahun 1914. sapi ini dikembangkan secara murni di pulau sumba dan merupakan sumber indukan sebagian besar ongole di dalam negeri. persilangan antara sumba ongole dengan sapi setempat di jawa menghasilkan anakan yang mirip sapi ongole sehingga sapi ini disebut dengan sapi peranakan ongole. sapi peranakan ongole merupakan sapi yang banyak dicari dipasaran saat hari raya qurban. di beberapa daerah di luar pulau jawa, sapi jenis peranakan ongole merupakan sapi dengan populasi terbesar kedua setelah sapi bali. 

karakteristik sapi ongole 

  1. ciri khas sapi ongole adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama sapi jantan. 
  2. kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitam-hitaman. kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. 
  3. kepala pendek dengan profil melengkung. mata besar dengan sorot yang tenang. 
  4. tanduk pendek dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan sapi jantan. 
  5. telinga panjang dan menggantung, sapi ongole akan dewasa kelamin pada umur 24-30 bulan. sapi ongole tergolong lambat dewasa. jenis sapi ini akan mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun.

bobot maksimal sapi dewasa 600 kg dan sapi betina dewasa 400 kg. persentase karkas 45-58% dan perbandingan daging serta tulang 4,25 :1. 

  1. sapi madura

sapi madura adalah salah satu sapi potong lokal yang asli indonesia, pada awalnya banyak didapatkan di pulau madura, namun sekarang sudah menyebar ke seluruh jawa timur.

sapi madura pada mulanya terbentuk dari persilangan antara banteng dengan bos indicus atau sapi zebu, yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak.

karakteristik sapi madura sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas; bertanduk khas dan jantannya bergumba.

ciri-ciri umum fisik sapi madura adalah : jantan maupun betinanya sama-sama berwarna merah bata; paha belakang berwarna putih; kaki depan berwarna merah muda; tanduk pendek beragam, pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm; panjang badan mirip sapi bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.

secara umum, sapi madura memiliki beberapa keunggulan antara lain mudah dipelihara; mudah berbiak dimana saja; tahan terhadap berbagai penyakit; tahan terhadap pakan kualitas rendah. dengan keunggulan tersebut, sapi madura banyak diminati oleh para peternak bahkan para peneliti dari negara lain. sudah banyak sapi madura dikirim ke daerah lain.

sapi dalam kehidupan masyarakat madura, bukan hanya mempunyai tempat khusus di kehidupan para petani di madura, sapi madura juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positip terhadap kelestarian sapi madura ini. sapi madura berjenis kelamin jantan, dimanfaatkan sebagai "sapi kerapan" yang menjadi salah satu aset pariwisata penting di pulau madura.

  1. sapi bali

benteng telah dibudidayakan oleh peternak di sebagian besar wilayah asia tenggara dan australia, yang kita kenal dengan sapi bali. sapi bali atau dalam bahasa lati dikenal dengan bos sondaicus, telah dipelihara dan dibudidayakan oleh masyarakat sejak 3.500 sm disekitar wiayah pulau jawa, lombok dan bali. dalam bahsa inggris sapi ini disebut dengan nama balinese cow, kadang-kadang oleh masyarakat disebut dengan nama bibos javanicus. 

hewan ternak sapi bali adalah salah satu ternak asli indonesia, seperti namanya, sapi ini berasal dari dari propinsi sebelah timur indonesia yaitu pulau bali, sejarah sapi bali berasal dari banteng yang telah dijinakkan berabad-abad lalu. abad ke-19 sapi bali mulai menyebar ke lombok, kemudian abad ke-2 masuk ke sulewasi selatan dan sejak tahun 1962 masuk ke wilayah-wilayah lain di indonesia. tidak hanya menyebar di indonesia, sap ini diketahui juga menyebar sampai ke australia, malaysia, dan filipina. 

sapi bali yang berasal dari banteng mengalami beberapa perubahan. perubahan tersebut terjadi karena cara hidupnya dan bukan karena pengaruh kawin silang dengan sapi jenis lain. salah satu perubahan tersebut adalah ukurannya yang sedikit lebih kecil dibandingkan dengan banteng, terutama pada bobot dan tinggi badan. 

masyarakat pulau dewata beternak sapi bali, tidak hanya sebagai daging semata, tetapi diimanfaatkan untuk membajak di sawah atau lahan pertanian, sebagai sumber pupuk oganik (kotoran atau air seni sapi). sapi ini biasa juga terkenal dimanfaatkan sebagai atraksi agrowisita. salain juga dimanfaatkan dalam upacara keagamaan hindu. dalam upacara keagamaannya butha yad dikenal sebagai caru, yang melambangkan makna pembersihan. sedangakan untuk umat islam, sapi bali biasa digunakan sebagai hewan kurban pada saat hari raya idul adha. sehinga pemerintah perlu memerhatikan keberadaannya, agar terus berkembang.

reproduksi sapi bali dkenal dengan sangat baik, sapi bali betina sudah dapat dikawinkan, saat sudah mencapai umur 2-2,5 tahun. pada umur itu, sapi sudah memiliki organ yang sangat sempurna, jarak ssapi bali melahirkan anak berkisar antara 12-14 bulan, sapi bali memiliki tingkat karkas yang tinggi dibandingkan dengan sapi lokal yang lain, yaitu sekitar 53,26%, peranakan ongole 46.9%. perbandingan antara daging dan tulang yaitu sekitar 4,4 :1. 

kendati mengalami perubahan ukuran dan bobot badan, secara kesuluruhan ciri-ciri sapi bali masih sama dengan banteng sebagai moyangnya. saat lahir, anak sapi bali berwana sawo matang merah mengkilap dengan garis hitam di punggung yang terlihat jelas. setelah dewasa, sapi betina tetap berwarna sawo matang kemerahan, sedangkan sapi jantan berwarna hitam. jika dikebiri, sapi jantan memiliki bulu berwarna sawo matang kemerahan seperti sapi betina. 

baik jantan maupun betina, sapi ini memiliki bulu berwarna putih di bidang belakang paha atau pantat dan kaki bagian bawah berwarna putih. pada sapi jantan yang sudah tua, akan muncul warna putih pada dahinya dan diantara dasar-dasar tanduknya. sapi bali memiliki dada yang dalam dan tubuh padat. tanduk sapi bali jantan tumbuh melebar kea rah luar kepala, sedangkan tanduk betinanya cenderung mengarah kedalam. kaki sapi bali pendek menyerupai kaki kerbau. berat sapibali jantan bisa mencapai 450 kg, sedangkan berat sapi bali betina atara 300-400 kg. 

keunggulan sapi bali, memiliki daya tahan terhadap panas tinggi, pertumbuhan tetap baik walaupun dengan pakan yang jelek dengan persentase karkas tinggi dan kualitas daging baik. umumnya, sapi bali betina dapat beranak setiap tahun. sayangnya pertumbuhan bobot hari sapi ini hanya 0.5 kg, dibandingkan dengan sapi lainnya seperti sapi simmental, sapi brahman, sapi limousin yang dapat mencapai bobot harian 1,2 kg/hari.